Beranda Tentang Kami Riset Strategis Berita & Artikel Kontak
DPRD NTB FPKB HEADLINE MATARAM NTB Pendidikan PKB

Mita Dian Listawati, Bidan Jadi Legislator PKB.

Diterbitkan: Maret 27, 2020 Oleh: Redaksi
Mita Dian Listiawati. (PKBpedia/Dok.)
MATARAM | Berada di kursi dewan untuk pertama kali, tidak membuat sosok srikandi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini kagok dengan segelumit hal terkait legislasi. Pengalamannya menjadi bidan dalam kurun sepuluh tahun terakhir telah membuatnya terbiasa menangani keluhan masyarakat sekaligus berjibaku dengan administrasi. Mita Dian Listawati, memiliki cara sendiri dalam menyerap aspirasi masyarakat di daerah Sandubaya tempat dimana ia terpilih.

Pada masa Reses  Februari-Maret 2020, Mita melaksanan Reses di enam titik Kecamatan Sandubaya. Kelurahan Mandalika, Selagalas, Bertais. Masing-masing dilakukan pada dua titik disetiap kelurahan yang disebutkan.  Bertais Daye, Pengempel Indah, Selagalas, Gerung Butun Barat, Karang Parwe, dan lingkungan Abian Tubuh menjadi sasaran masa terima aspirasi Mita.

Masyarakat sering menyampaikan keluhannya kepada bidan yang satu ini,meski diluar masa reses yang telah ditentukan waktunya. Masyarakat biasanya mengambil kesempatan saat pengajian, maupun saat berobat ke rumah dewan ini. Memang sampai saat ini sosok Mita masih menyediakan stok obat-obatan di rumahnya untuk melayani keluhan kesehatan masyarakat sekitar. Selain masalah kesehatan, masyarakat juga mengeluhkan hal lain, misalnya penanganan banjir, di wilayah Sandubaya dan sekitar.

Kecamatan sandubaya sendiri di beberapa titik memang dikelompokkan menjadi daerah rawan banjir. Melalui masa resesnya, Mita bertekad mulai mengatasi hal ini melalui penanganan sampah yang tepat, dan bangunan drainase. Sampah dan drainase memang menjadi dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari banjir. Jika sampah menumpuk sembarangan, ditambah buruknya konstruksi drainase tentu banjir tak terelakan. Masalah drainase, Mita melalui dinas terkait akan mencarikan solusi agar tidak saja mencegah banjir, namun memperindah tampilan lingkungan pula. Begitupun dengan masalah sampah yang kerap kali menumpuk sembarangan.

Masalah sampah, untuk tahapan awal Mita menyediakan kendaraan roda tiga sebagai pengangkut sampah. Hadirnya kendaraan roda tiga ini dimaksudkan agar tidak terjadi penumpukan sampah dilingkungan. Penumpukan sampah ini, dikhawatirkan memicu permasalahan kesehatan, dan permasalahan lingkungan.

Mita mengaku ini sebagai tahap awal dalam penanganan sampah. Artinya akan ada inovasi lain berkelanjutan dalam mengatasi permasalahan ini. Srikandi Komisi Satu bidang Hukum dan Ham DPRD Kota Mataram ini juga mengutarakan, nantinya akan mendatangkan peralatan daur ulang, sampai industrialisasi sampah.

Mita memang tidak pada komisi empat yang membidangi lingkunagn. Namun dengan pengalamannya bersama masyarakat melalui pengabdian sebagai bidan, tentu kebijakan dibidang lingkungan terutama kesehatan akan sangat diperhatikannya. Seperti misal masalah kuburan di salah satu lingkungan dapilnya yang sempat disinggung saat reses.

Alumni Poltekes Mataram ini mengaku prihatin dengan pemakaman yang ditinjau, disalah satu daerah konstituennya. Bagaimana tidak, tanah yang longsor, tidak adanya pembatas kuburan, juga tiadanya aula makam membuatnya miris.

“ Bagaimanapun, selain melayat dan berziarah, pemakaman juga tempat yang sakral, karena disana kita juga mengngingat akan kematian. Jadi harus rapi dan nyaman,” tuturnya.

Oleh karenanya, Mita berusaha menumbuhkan kesadaran masyarakat, untuk permasalahan kerapihan pemakaman ini. Selaian problem makam, Mita juga dihadapkan pada sebuah permintaan wajib saat reses.

Sudah menjadi hal yang wajar jika pada masa reses dewan, masyarakat akan berharap Bantuan Sosial (Bansos). Biasanya bantuan ini berupa rupiah tunai yang diberikan kepada masyarakat untuk membantu dalam bidang pemberdayaan atau usaha. Secara pribadi, Mita ingin menekankan kepada masyarakat bantuannya akan lebih banyak dalam bentuk fisik. Keluhan masyarakat tidak melulu akan diselesaikan dengan pemberian uang tunai, melainkan dengan sarana terkait keluhan masing-masing. Bukan tanpa alasan, mita berharap masyarakat agar mandiri dan mampu menemukan solusi. Solusi masyarakat inilah yang akan dijadikan Mita sebagai bahan pengambilan kebijakan selanjutnya.

Mita mengaku tidak terkejut dengan permasalah pada ranah legislasi, terutama menjadi pendengar aspirasi masyarakat. Ia mengaku majunya sebagai wakil rakyat, merupakan desakan masyarakat, jadi bagaimanapun masalah yang dihadapi kemudian, Mita tidak sendiri, melainkan berdiri bersama masyarakatnya. (RED)