![]() |
| Lalu Hadrian Irfani Bersama Muhaimin Iskandar. (PKBpedia/Ist) |
Walaupun ada larangan membatasi aktivitas berkumpul dalam jumlah banyak, masih banyak warga yang melanggar. Tidak semua kegiatan itu sebenarnya penting-penting amat. Hanya sekedar kumpul. Bergosip bla bla bla.
Mengatasi aktivitas kumpul di rumah ibadah lalu dianggap dilarang. Padahal hanya mengingatkan. Di Lombok, dua orang yang positif corona adalah tokoh agama. Tertular saat mengikuti kegiatan. Kumpul-kumpul bersama tokoh-tokoh. Acara yang mulia. Tapi tetap saja virus ini tidak melihat acaranya. Begitu juga di Malaysia yang banyak positif adalah jamaah yang mengikuti kegiatan keagamaan.
Tentu saja dengan pengurangan aktivitas ini akan berdampak pada ekonomi. Banyak karyawan yang dirumahkan. Banyak pekerja serabutan yang tidak bisa bekerja. Bagi pegawai pemerintah, mungkin juga anggota dpr sih aman-aman saja. Gaji tetap diterima.
Berdiam diri di rumah adalah aktivitas paling membosankan bagi saya. Terbiasa beraktifitas padat. Rumah adalah tempat tidur. Bangun pagi lalu berangkat ke kantor, untuk rapat dan aktifitas lainnya. Tiba-tiba sekarang disuruh berdiam diri.
Takut sudah pasti. Konyol namanya tahu ada wabah lalu keluyuran kesana-kemari. Setidaknya jika saya tetap sehat bisa mengurangi beban tenaga kesehatan. Mengurangi orang yang bisa tertular. Bayangkan jika saya yang mobilitasnya tinggi menjadi carrier. Begitu banyak orang yang tertular. Dan ini sama artinya : semakin banyak beban kerja tenaga kesehatan, semakin banyak uang yang harus dikeluarkan pemerintah, semakin lama waktu darurat, semakin lama krisis ekonomi akan terjadi. Nauzubillah.
Ada hal-hal diluar kemampuan kita untuk memikirkan dan mengatasinya, maka kita cukup pasrah saja. Urusan penanganan kesehatan ada tenaga kesehatan yang lebih ahli. Kita cukup berdiam diri di rumah saja. Itu saja. Memang berat. Tapi jika tidak dilakukan akan semakin panjang krisis ini.
Kita perlu belajar dari para nelayan yang terbiasa melakukan "lockdown". Pada musim tertentu mereka menghentikan aktivitas. Tidak melaut. Cuaca ganas. Melaut sama artinya menantang maut. Sudah banyak nelayan yang meninggal dan hilang hingga saat ini. Menantang badai.
Memang berat. Di satu sisi kebutuhan perut. Di satu sisi juga bahaya di depan mata. Maka di sinilah kita harus jernih, mana resiko yang terkecil. Nelayan sudah terbiasa menjual semua perabot rumah mereka saat musim paceklik.
Seorang Dosen pernah riset di daerah pesisir Lombok Timur. Saat musim paceklik itu kondisi gizi anak-anak nelayan menuju garis gizi kurang. Pada musim panen besar gizi mereka bagus.
Masa "Lockdown" nelayan juga bisanya digunakan untuk memperbaiki jaring. Memperbaiki perahu. Membereskan rumah mereka. Tidak ada pemasukan tapi juga bisa merapikan rumah dan perlengkapan untuk mencari rezeki.
Seminggu ini saya mengisi waktu dengan menata rumah. Astaga! Saya baru sadar rumput di halaman sudah tinggi dan kelihatan kumuh. Di beberapa sudut rumah sudah mulai bersarang laba-laba. Piring dan gelas berdebu karena tidak pernah dipakai. Dan saya sadar ternyata isi rumah saya sangat banyak. Banyak barang yang sebenarnya bukan kebutuhan utama. Walaupun barang itu tidak ada, tidak akan mengganggu aktivitas saya.
Saya lalu berpikir. Apakah dengan tidak ikut acara kumpul-kumpul. Acara ramai-ramai. Bepergian ke tempat ramai akan mengganggu saya? Ternyata tidak. Kadang kita butuh menyendiri. Seperti kata Rumi :
Untuk sejenak
Kita hidup bersama orang-orang
Tapi tiada tertanda kesetiaan
di antara mereka
Maka, mari sembunyi
seperti air dalam logam
atau api dalam batu
Semoga Alloh SWT senantiasa melindungi kita, memberikan kita kekuatan dan kesehatan untuk melalui ini semua.
Salam,
Lalu Hadrian Irfani (Lalu Arie)
Pimpinan komisi II DPRD NTB
#DiRumahSaja
#MeroqLeqBalè
#MendotNgkahLiah
#Ngkahpengkung
#Ngkahpagah

